Monday, 13 June 2011

Gejala penyakit Mata merah yang mudah menimbulkan kebutaan



Gejala penyakit Mata merah yang mudah menimbulkan kebutaan.
Penderita dengan keadaan mata merah sering menganggap enteng gejala ini. Tidak jarang penderita mengusahakan mengobati sendiri. Penderita mencoba dengan obat tetes mata yang dijual bebas, obat tetes anti biotika, obat tetes tradisionil, bahkan ada yang mencoba dengan air urine.

Keadaan Mata merah, bisa saja merupakan suatu gejala penyakit mata yang dapat disembuhkan dengan obat tetes mata antibiotik saja, bahkan dapat sembuh sendiri. Namun mata merah banyak merupakan gejala penyakit mata yang harus segera ditangani oleh dokter. Dan mata merah ini…akan menyebabkan kelainan mata yang lebih buruk atau menimbulkan kebutaan.

Nah, tanda tanda apa saja dan gejala apa saja yang menyertai mata merah yang dapat membedakan keadaan tersebut…?

Kita tinjau dahulu keadaan mata merah. Mata merah tampak karena adanya pelebaran serta bertambah banyaknya pembuluh darah pada dinding bola mata, termasuk selaput bola mata ( konyungtiva) atau sebagian besar dinding bola mata ( sklera.). Bahkan kornea ( selaput bening mata ) pun dapat terjadi karena invasi pembuluh darah dari konyungtiva.

Gejala mata merah, harus dilihat gejala gejala penyerta lainnya. Agar penderita segera memeriksakan ke dokter spesialis mata agar dapat segera ditangani. Apakah disertai penurunan ketajaman penglihatan dan rasa sakit yang sangat ?

Mata merah, dengan kotoran mata yang sangat banyak dan berwarna kuning seperti nanah, terasa sakit. Apalagi penderita sudah berusaha mengobati sendiri. Ada kemungkinan besar karena infeksi bakteri Gonokokus. Bakterin ini penyebab kencing nanah. Bakteri ini mudah ditemukan pada pemeriksaan laboratorium.
Keadaan mata merah ini harus segera ditangani karena gampang terjadi perforasi kornea., mata kences, sehingga mudah terjadi kebutaan .

Keadaan mata merah, rasa sakit kepala yang dalam, disertai ketajaman penglihatan yang berangsur angsur memburuk. Harus diwaspadai adanya peradangan di organ iris (diafragma mata) yaitu Iridosiklitis. Peradangan iris menyebabkan kekeruhan sel sel nanah dalam mata ( humor aquos), disertai perlengketan iris terhadap lensa mata.
Jenis mata merah ini harus segera ditangani oleh dokter, karena harus diberikan obat kortikosteroid dosis tinggi. Agar reaksi radang harus segera hilang, kebutaan dapat dicegah.

Mata merah, rasa sakit kepala yang dalam, disertai menurunnya ketajaman penglihatan dapat disebabkan glukoma. Mata merah ini disertai peninggian tekanan bola mata, bola mata bila di di tekan oleh kedua jari tangan akan terasa keras seperti kelereng. Keadaan ini harus segera ditangani dokter, karena mengancam terjadinya kebutaan. Penurunan ketajaman pengliahatan atau Kebutaan yang timbul tidak akan kembali normal, bersifat permanent, walaupun dilakukan operasi. Ini karena terjadi kerusakan syaraf mata.

Mata merah, rasa sakit, berair disertai adanya riwayat trauma zat kimia atau masuknya benda asing pada kornea. Ini juga harus dilakukan tindakan segera untuk mencegah kebutaan. Bila karena zat kimia harus segera dilakukan bilas mata, sedangkan benda asing pada mata harus segera dibuang benda asing tersebut.

Mata merah, rasa sakit yang sangat dapat disebabkan endoftalmitis. Rongga mata terisi penuh oleh nanah. Ini dapat disebabkan infeksi mata yang tidak tertangani dengan baik. Dapat juga timbul karena trauma atau paska operasi mata yang terjadi infeksi. Keadaan ini harus segera ditangani oleh dokter mata untuk menyelamatkan matanya dengan jalan operasi vitrektomi.

Monday, 6 June 2011

ANATOMI DAN FISIOLOGI PERNAFASAN


ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN

STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM RESPIRASI
Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O²) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO²) yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru.

STRUKUTR SISTEM RESPIRASI
Sistem respirasi terdiri dari:
1. Saluran nafas bagian atas
Pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan, disarung dan dilembabkan
2. Saluran nafas bagian bawah

Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas ke alveoli
3. Alveoli
terjadi pertukaran gas anatara O2 dan CO2
4. Sirkulasi paru
Pembuluh darah arteri menuju paru, sedangkan pembuluh darah vena meninggalkan paru.
5. Paru
terdiri dari :
a. Saluran nafas bagian bawah
b. Alveoli
c. Sirkulasi paru
6. Rongga Pleura
Terbentuk dari dua selaput serosa, yang meluputi dinding dalam rongga dada yang disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru atau pleura veseralis


7. Rongga dan dinding dada
Merupakan pompa muskuloskeletal yang mengatur pertukaran gas dalam proses respirasi

Saluran Nafas Bagian Atas
a. Rongga hidung
Udara yang dihirup melalui hidung akan mengalami tiga hal :
- Dihangatkan
- Disaring
- Dan dilembabkan
Yang merupakan fungsi utama dari selaput lendir respirasi ( terdiri dari : Psedostrafied ciliated columnar epitelium yang berfungsi menggerakkan partikel partikel halus kearah faring sedangkan partikel yang besar akan disaring oleh bulu hidung, sel golbet dan kelenjar serous yang berfungsi melembabkan udara yang masuk, pembuluh darah yang berfungsi menghangatkan udara). Ketiga hal tersebut dibantu dengan concha. Kemudian udara akan diteruskan ke
b. Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius)
c. Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah)
d. Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)

Saluran Nafas Bagian Bawah
a. Laring
Terdiri dari tiga struktur yang penting
- Tulang rawan krikoid
- Selaput/pita suara
- Epilotis
- Glotis
b. Trakhea
Merupakan pipa silider dengan panjang ± 11 cm, berbentuk ¾ cincin tulang rawan seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan oleh membran fibroelastic menempel pada dinding depan usofagus.
c. Bronkhi
Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini disebut carina. Brochus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat dengan trachea.
Bronchus kanan bercabang menjadi : lobus superior, medius, inferior. Brochus kiri terdiri dari : lobus superior dan inferior

Alveoli
Terdiri dari : membran alveolar dan ruang interstisial.
Membran alveolar :
- Small alveolar cell dengan ekstensi ektoplasmik ke arah rongga alveoli
- Large alveolar cell mengandung inclusion bodies yang menghasilkan surfactant.
- Anastomosing capillary, merupakan system vena dan arteri yang saling berhubungan langsung, ini terdiri dari : sel endotel, aliran darah dalam rongga endotel
- Interstitial space merupakan ruangan yang dibentuk oleh : endotel kapiler, epitel alveoli, saluran limfe, jaringan kolagen dan sedikit serum.

Aliran pertukaran gas
Proses pertukaran gas berlangsung sebagai berikut: alveoli epitel alveoli  membran dasar  endotel kapiler  plasma  eitrosit.
Membran  sitoplasma eritrosit  molekul hemoglobin

O² Co²


Surfactant
Mengatur hubungan antara cairan dan gas. Dalam keadaan normal surfactant ini akan menurunkan tekanan permukaan pada waktu ekspirasi, sehingga kolaps alveoli dapat dihindari.



Sirkulasi Paru
Mengatur aliran darah vena – vena dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis dan mengalirkan darah yang bersifat arterial melaului vena pulmonalis kembali ke ventrikel kiri.

Paru
Merupakan jalinan atau susunan bronhus bronkhiolus, bronkhiolus terminalis, bronkhiolus respiratoty, alveoli, sirkulasi paru, syaraf, sistem limfatik.

Rongga dan Dinding Dada
Rongga ini terbentuk oleh:
- Otot –otot interkostalis
- Otot – otot pektoralis mayor dan minor
- Otot – otot trapezius
- Otot –otot seratus anterior/posterior
- Kosta- kosta dan kolumna vertebralis
- Kedua hemi diafragma
Yang secara aktif mengatur mekanik respirasi.













FUNGSI RESPIRASI DAN NON RESPIRASI DARI PARU
1. Respirasi : pertukaran gas O² dan CO²
2. Keseimbangan asam basa
3. Keseimbangan cairan
4. Keseimbangan suhu tubuh
5. Membantu venous return darah ke atrium kanan selama fase inspirasi
6. Endokrin : keseimbangan bahan vaso aktif, histamine, serotonin, ECF dan angiotensin
7. Perlindungan terhadap infeksi: makrofag yang akan membunuh bakteri

Mekanisme Pernafasan
Agar terjadi pertukaran sejumlah gas untuk metabolisme tubuh diperlukan usaha keras pernafasan yang tergantung pada:

1. Tekanan intar-pleural
Dinding dada merupakan suatu kompartemen tertutup melingkupi paru. Dalam keadaan normal paru seakan melekat pada dinding dada, hal ini disebabkan karena ada perbedaan tekanan atau selisih tekanan atmosfir ( 760 mmHg) dan tekanan intra pleural (755 mmHg). Sewaktu inspirasi diafrgama berkontraksi, volume rongga dada meningkat, tekanan intar pleural dan intar alveolar turun dibawah tekanan atmosfir sehingga udara masuk Sedangkan waktu ekspirasi volum rongga dada mengecil mengakibatkan tekanan intra pleural dan tekanan intra alveolar meningkat diatas atmosfir sehingga udara mengalir keluar.

2. Compliance
Hubungan antara perubahan tekanan dengan perubahan volume dan aliran dikenal sebagai copliance.
Ada dua bentuk compliance:
- Static compliance, perubahan volum paru persatuan perubahan tekanan saluran nafas ( airway pressure) sewaktu paru tidak bergerak. Pada orang dewasa muda normal : 100 ml/cm H2O
- Effective Compliance : (tidal volume/peak pressure) selama fase pernafasan. Normal: ±50 ml/cm H2O
Compliance dapat menurun karena:
- Pulmonary stiffes : atelektasis, pneumonia, edema paru, fibrosis paru
- Space occupying prosess: effuse pleura, pneumothorak
- Chestwall undistensibility: kifoskoliosis, obesitas, distensi abdomen
Penurunan compliance akan mengabikabtkan meningkatnya usaha/kerja nafas.

3. Airway resistance (tahanan saluran nafas)
Rasio dari perubahan tekanan jalan nafas

SIRKULASI PARU
a. Pulmonary blood flow total = 5 liter/menit
Ventilasi alveolar = 4 liter/menit
Sehingga ratio ventilasi dengan aliran darah dalam keadaan normal = 4/5 = 0,8
b. Tekanan arteri pulmonal = 25/10 mmHg dengan rata-rata = 15 mmHg.
Tekanan vena pulmolais = 5 mmHg, mean capilary pressure = 7 mmHg
Sehingga pada keadaan normal terdapat perbedaan 10 mmHg untuk mengalirkan darah dari arteri pulmonalis ke vena pulmonalis
c. Adanya mean capilary pressure mengakibatkan garam dan air mengalir dari rongga kapiler ke rongga interstitial, sedangkan osmotic colloid pressure akan menarik garam dan air dari rongga interstitial kearah rongga kapiler. Kondisi ini dalam keadaan normal selalu seimbang.Peningkatan tekanan kapiler atau penurunan koloid akan menyebabkan peningkatan akumulasi air dan garam dalam rongga interstitial.

TRANSPOR OKSIGEN
1.Hemoglobin
Oksigen dalam darah diangkut dalam dua bentuk:
- Kelarutan fisik dalam plasma
- Ikatan kimiawi dengan hemoglobin
Ikatan hemoglobin dengan tergantung pada saturasi O2, jumlahnya dipengaruhi oleh pH darah dan suhu tubuh. Setiap penurunan pH dan kenaikkan suhu tubuh mengakibatkan ikatan hemoglobin dan O2 menurun.
2. Oksigen content
Jumlah oksigen yang dibawa oleh darah dikenal sebagai oksigen content (Ca O2 )
- Plasma
- Hemoglobin

REGULASI VENTILASI
Kontrol dari pengaturan ventilasi dilakukan oleh sistem syaraf dan kadar/konsentrasi gas-gas yang ada di dalam darah
Pusat respirasi di medulla oblongata mengatur:
-Rate impuls Respirasi rate
-Amplitudo impuls Tidal volume
Pusat inspirasi dan ekspirasi : posterior medulla oblongata, pusat kemo reseptor : anterior medulla oblongata, pusat apneu dan pneumothoraks : pons.
Rangsang ventilasi terjadi atas : PaCo2, pH darah, PaO2

PEMERIKSAAN FUNGSI PARU
Kegunaan: untuk mendiagnostik adanya : sesak nafas, sianosis, sindrom bronkitis
Indikasi klinik:
- Kelainan jalan nafas paru,pleura dan dinding toraks
- Payah jantung kanan dan kiri
- Diagnostik pra bedah toraks dan abdomen
- Penyakit-penyakit neuromuskuler
- Usia lebih dari 55 tahun.

Anatomi Saluran Pernapasan


Saluran pernapasan atau tractus respiratorius (respiratory tract) adalah bagian tubuh manusia yang berfungsi sebagai tempat lintasan dan tempat pertukaran gas yang diperlukan untuk proses pernapasan. Saluran ini berpangkal pada hidung atau mulut dan berakhir pada paru-paru. Udara yang diisap pada waktu menarik napas (inspirasi) biasanya masuk melalui lubang hidung (pares) kiri dan kanan. Pada saat masuk, udara disaring oleh bulu hidung yang terdapat di bagian dalam lubang hidung.
Setelah itu, udara pernapasan masuk ke dalam rongga hidung kiri dan kanan. Rongga hidung kiri dan kanan dipisahkan oleh sekat atau septum nasi. Septum ini dibentuk oleh tulang di bagian sebelah dalam dan oleh tulang rawan di sebelah luar. Karena terbuat dan tulang rawan, hidung masih bisa digerakkan ke kiri-kanan. Tetapi, jika gerakan itu dilakukan dengan kasar, sekat atau septum akan bergeser dari tempatnya (deviatio septa). Keadaan ini tidak menguntungkan karena biasanya menyebabkan timbulnya gejala hidung tersumbat. Deviatio juga dapat terjadi pada seorang petinju yang terpukul hidungnya sehingga biasanya dilakukan operasi pencabutan tulang rawan itu.
Di dalam rongga hidung, udara mengalami penyesuaian temperatur dan kelembapan. Proses ini dilakukan melalui keberadaan sekat rongga hidung atau concha nasalis. Di suatu rongga hidung (kiri atau kanan) terdapat 3 buah conchae yang membagi rongga itu menjadi 3 bagian pula. Udara yang terlalu panas akan diturunkan temperaturnya dan yang terlalu dingin akan dihangatkan pada saat melewati concha dan dinding rongga hidung.
Pada orang-orang yang alergi terhadap debu atau udara dingin, debu akan merangsang selaput lendir sehingga terjadi produksi berlebihan dari lendir itu. Keadaan ini dinamakan rhinitis allergica, suatu kondisi yang mirip dengan rhinitis vasomotorica yang lebih banyak disebabkan oleh gangguan pada pembuluh darah yang terkena udara dingin. Nama rhinitis menunjukkan penyakit pada hidung, sedangkan pilek atau common cold adalah nama untuk penyakit infeksi pada hidung. Rangsangan yang berkepanjangan dapat menyebabkan pertumbuhan tidak normal pada selaput lendir hidung yang dinamakan polip.
Kemampuan penyesuaian temperatur ini tentu ada batasnya. Pada saat seseorang bernapas di ruang yang sangat panas, hidung tak akan mampu menurunkan temperatur sehingga is akan mengisap udara panas yang dapat menyebabkan luka bakar di pantparu. Ketika seseorang mengisap udara dingin, kejadian yang sama juga terjadi, tetapi dalam kondisi yang lebih terjaga. Seseorang dapat mengalami bahaya kebakaran mendadak tetapi jarang mengalami bahaya kedinginan yang mendadak.Oleh karena itu, biasanya seseorang akan sudah mempersiapkan diri ketika memasuki tempat dingin.
Walaupun demikian, risiko mengisap udara dingin sering kali tak dapat chhindarkan walaupun dalam kadar yang tidak membahayakan. Sebagai akibat kontak dengan udara dingin, sekat rongga hidung dan selaput lendir hidung yang akan mengalami gangguan. Rasa dingin itu akan menutup kapiler dan memblokir aliran darah sehingga terjaoli peradangan pada selaput lendir hidung.
Peradangan biasanya disertai dengan pembengkakan sehingga yang bersangkutan mengalami kesulitan bernapas dengan hidung. Perlu diketahui bahwa pada sekat rongga hidung selaput lendir itu berhubungan erat dengan tulang di bawahnya sehingga peradangan ini menimbulkan rasa nyeri. Di samping itu, selaput yang meradang juga akan menghasilkan lendir dalam jumlah banyak. Dalam waktu singkat selaput lendir yang meradang ini dapat ditembus oleh bakteri yang biasa sudah terdapat di sekitarnya. Itu sebabnya di musim dingin banyak orang menderita.
Udara yang diisap mungkin juga membawa bau-bauan. Bau itu akan diteruskan oleh udara ke rongga hidung yang terletak di bagian paling atas. Di tempat ini selaput lendir mengandung reseptor penerima bau dan udara yang sudah dibasahkan berupa suatu reseptor yang menerima rangsang kimia (chemo-receptor). Secara umum, sepertiga atas rongga hidung berfungsi untuk menerima bau dan dua pertiga untuk fungsi pernapasan.
Di sisi rongga hidung dapat ditemukan lubang yang ber-hubungan dengan rongga yang terdapat di dalam tulang rahang atas (sinus maxillaris), dan muara dari saluran air mata (ductus naso-lacrimalis). Hal ini menjelaskan mengapa seorang yang menangis mengeluarkan air matanya lewat hidung.
Pada keadaan normal udara dialirkan masuk ke dalam sinus itu, tetapi udara terlalu dingin juga dapat merusak selaput lendir (mucosa) sinus itu sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Infeksi itu juga mudah terjadi karena pada saat menerima udara dingin rongga hidung juga bereaksi menjadi bengkak sehingga memblokir hubungan keluar sinus itu. Keadaan ini selanjutnya akan menyebabkan penurunan tekanan udara karena udara yang ada diisap oleh selaput lendir. Infeksi sinus ini dikenal sebagai sinusitis maxillaris yang ditandai oleh mengalirnya cairan (nanah) berwarna kuning bersama dengan lendir hidung. Penderita sinusitis biasanya juga mengeluh sakit kepala berat. Perlu diperhatikan bahwa sinus ini belum terbentuk pada anak kecil di bawah 5 tahun sehingga anak-anak tidak dapat mengalami sinusitis seperti orang dewasa.
Selain kedua saluran tadi, masih ada lagi muara saluran lain yang berhubungan dengan rongga yang terdapat di tulang dahi (sinus frontalis). Karena rongga itu terletak di atas hidung, salurannya juga tegak lurus ke atas. Oleh keberadaan muara saluran itu, seseorang tidak dianjurkan loncat ke air dengan posisi vertikal dan hidung terbuka ketika berenang. Loncatan dengan posisi demikian memungkinkan air masuk ke sinus dan menimbulkan perubahan tekanan mendadak kepada sinus akibat tumbukan udara dengan air sehingga mudah terjadi sinusitis frontalis.
Setelah melewati rongga hidung, udara masuk ke kerongkongan bagian atas (naso-pharynx) lalu ke bawah untuk selanjutnya masuk tenggorokan (larynx). Di naso-pharynx terdapat muara dari saluran eustachius yang menghubungkan kerongkongan dengan rongga telinga tengah (auris media). Pada anak kecil dan bayi, saluran ini panjangnya kurang lebih 2 cm dan berbentuk lurus, sedangkan pada orang dewasa lebih panjang dan berbelok. Karena bayi dan anak kecil biasanya berada dalam posisi berbaring, saluran ini sering berada dalam posisi tegak lurus. Sebagai akibatnya, jika terjadi pembengkakan akibat ‘pilek’, lendir yang mengandung bakteri mudah mengalir ke rongga telinga tengah sehingga terjadi infeksi yang dinamakan otitis media.
Rongga mulut dipisahkan dengan naso-pharynx oleh adanya langit-langit mulut lunak (palatum molle). Pada saat seseorang bernapas melalui hidung langit-langit ini turun sehingga udara mudah mengalir dari naso-pharynx ke tenggorokan. Sebaliknya, pada saat menarik napas melalui mulut palatum molle (langitlangit mulut lunak) itu akan tertarik ke atas menutup nano pharynx. Kondisi ini dapat digunakan untuk memeriksa bagian belakang mulut seseorang tanpa orang tersebut mengalami kerepotan. Pada saat menelan makanan, lidah tertarik ke depan dan epig/otis di belakangnya akan tertarik sedemikian sehingga menutup lubang masuk ke tenggorokan. Itu sebabnya, pada saat menelan seseorang terpaksa harus menahan napas. Mekanisme itu juga menahan makanan sehingga tidak salah masuk ke tenggorokan.
Untuk dapat berbicara, seseorang perlu mendorong udara melewati pita suara sehingga pita suara bergetar. Jika ia melakukannya pada saat mengunyah dan akan menelan makanan, besar kemungkinan makanan akan masuk ke tenggorokan karena epiglotis ia paksa untuk terbuka. Oleh karena itu, berbicara sambil makan tidak dianjurkan. Epiglotis adalah bagian dan tenggorokan (larynx). Bentuk dan posisinya mengantar makanan yang turn melalui celah di kirikanan larynx (recesssus pyriformis). Larynx terutama dibentuk oleh tulang rawan. Pada laki-laki setelah masa pubertas, larynx ini membesar dan menonjol di depan leher, disebut Adam’s apple (pomum adami). Di larynx juga ditemukan pita suara (plica vocally) yang terdiri dari bagian rawan dan bagian selaput. Pada posisi istirahat, udara pernapasan masuk melalui bagian rawan sehingga tidak menggetarkan pita suara. Pada seorang yang menderita asma, suara yang timbul pada waktu bernapas bukan berasal dari pita suara, melainkan melalui mekanisme pentil di cabang bronchus yang kecil (bronchiolus). Selaput lendir di sebelah atas dan sebelah bawah pita suara mempunyai persarafan yang berbeda. Selaput di bagian atas mempunyai kemampuan merasa sesuatu (persarafan somatis) sehingga dapat memberi rasa gatal atau nyeri. Sebaliknya, bagian di bawah pita suara tidak mempunyai kemampuan itu (persarafan otonom). Walaupun demikian, jika ada gangguan di daerah itu reaksinya tetap sama, yaitu berupa batuk. Batuk merupakan mekanisme untuk menghilangkan sesuatu yang terdapat di saluran pernapasan. Sesuatu itu bisa berupa lendir yang dihasilkannya sendiri atau benda asing lain yang merangsang selaput lendir.
Setelah melalui tenggorokan, udara masuk ke batang tenggorok atau trachea, dan sana diteruskan ke saluran yang bernama bronchus. Saluran dengan nama bronchus ini terdiri dan beberapa tingkat percabangan dan akhirnya berhubungan dengan alveolus di paru-paru. Percabangan bronchus yang bertingkat itu mirip dengan percabangan batang pohon menjadi dahan dan ranting. Daun-daun pada ranting dapat diibaratkan sebagai alveolus. Sama seperti pada pohon, sistem ini tidak boleh mengalami kebocoran. Pada pohon kebocoran menyebabkan keluarnya getah dan pada bronchus menyebabkan keluarnya udara yang akan membuat paru-paru kolaps. Penyakit yang mengenai saluran pernapasan sampai dengan bronchus dinamakan penyakit saluran pernapasan bagian atas (upper respiratory tract infection, URTI) dan umumnya disebutkan sebagai bronchitis saja. Jika sudah mengenai jaringan paru-paru, infeksi itu disebut juga pneumonia.
Dengan demikian, istilah bronchitis adalah suatu istilah umum yang tidak menjelaskan berat ringannya penyakit. Bronchitis tuberculosa adalah salah satu penyakit bronchitis berat; asthma bronchiole (asma) adalah penyakit pada bronchus yang sangat mengganggu dan dapat menjadi berat.
Sepanjang bronchus sampai hidung selaput lendirnya mempunyai bulu getar (respiratory epithelium) yang dapat mendorong benda asing dan lendir ke atas. Pada perokok rangsangan asap menyebabkan produksi lendir bertambah. Lendir itu menetap di bagian bawah pada siang hari karena yang bersangkutan biasanya berdiri, dan lendir itu mengalir keluar sepanjang malarn ketika
tidur. Karenanya, para perokok sering mengalami batuk pagi yang clisertai keluarnya lendir yang dinamakan smoker’s cough.
Perlu diperhatikan bahwa lendir di dalam bronchus jika berjumlah banyak akan menyumbat aliran udara. Jika jumlahnya sangat banyak, suatu cabang bronchus dapat tersumbat total sehingga lambat laun jaringan paru-paru di ujungnya mengalami pengempisan atau collapse (atelectase).Jika lendir itu cukup banyak dan belum menyumbat total, akan terjadi mekanisme pentil yang menyebabkan paru-paru di bagian ujung makin lama makin dibebani udara dan gelembung alveolusnya pecah. Orang itu menderita emphysema pulmonum yang biasanya menyebabkan sesak napas yang tak dapat diobati dengan obat biasa.
Selain itu, lendir yang banyak juga memudahkan penyebaran bakteri di tempat itu sehingga penderita mengalami infeksi yang dinamakan bronchiektasi yang ditandai oleh batuk dengan dahak yang sangat banyak.
Pada penderita asma, reaksi alergi yang dialaminya menyebabkan kontraksi otot yang mengelilingi bagian bronchus yang sudah tidak diperkuat oleh tulang rawan (bronchiolz). Sebagai akibatnya penderita sukar mengeluarkan napas dan penyempitan itu menyebabkan timbulnya suara (wheezing) pada saat dilalui udara pernapasan . Paru-paru (lung, pulmo) berjumlah 2 buah, terletak di dalam rongga dada dengan puncak menjorok di ens iga paling atas ke arah leher. Bagian paru-paru ini mengisi celah yang terdapat di atas tulang selangka (clavicula). Pada penderita sakit paru-paru (tuberculosa) paru-paru di bagian ini sering terserang sehingga sering kali bagian badan di tempat itu melekuk ke dalam.
Paru-paru kanan terbagi menjadi 3 lobus dan yang kiri menjadi 2 lobus. Jika diperlukan, paru-pare dapat dioperasi dan dibuang salah satu lobus itu tanpa membahayakan hidup penderitanya.
Mekanisme pernapasan diatur oleh sistem saraf dan kadar gas dalam darah. Untuk dapat menahan napas lebih lama, misalnya pencari mutiara, dapat mempersiapkan diri dengan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya beberapa kali secara cepat. Dengan cara ini terjadi perubahan keseimbangan gas sehingga kadar CO2 meningkat. Kondisi ini menyebabkan reaksi saraf yang menahan orang tersebut bernapas (apnoe) sehingga tercapai keseimbangan. Dengan menarik napas yang dalam, seseorang mengambil sebanyak mungkin udara dan oksigen, ditambah dengan periode apnoe tadi menyebabkan is mempunyai cadangan untuk lebih lama menahan napas.
Pada kondisi kesehatan yang terganggu dapat ditemukan suatu pernapasan yang tidak teratur. Yang bersangkutan akan terlihat bernapas, makin lama makin cepat, lalu berhenti dan kemudian mengulangi pola yang sama. Pola pernapasan ini dinamakan pernafasan Cheyne-Stokes. Mekanisme tersebut digunakan dalam upaya menambah kemampuan menahan napas. Kapasitas maksimal paru-paru berkisar sekitar 3,5 liter, tetapi kapasitas ini dapat ditingkatkan melalui latihan yang bersifat aerobik. Dalam keadaan normal udara pernapasan yang satu kali diisap dan dikeluarkan mempunyai volume sekitar 1 liter. Di daerah pegunungan yang sangat tinggi, dengan kadar oksigen rendah, penduduk biasanya mempunyai paru-paru dengan kapasitas lebih besar karena mereka memerlukan lebih banyak udara setiap kali bernapas. Kebiasaan merokok dapat mengurangi kapasitas paru-paru karena keberadaan lendir di dalam paru-paru. Di dalam rongga dada, paru-paru terbungkus oleh selaput yang dinamakan pleura. Selaput ini terdiri dari dua lapisan yang saling berhubungan membentuk rongga sehingga dikatakan paruparu terletak di dalam rongga pleura. Bagian yang melekat di permukaan paru-paru dinamakan pleura visceralis dan yang melekat pada dinding rongga dada sebagai pleura parietalis. Pleura visceralis mempunyai persarafan tidak sadar seperti paru-paru, sedangkan pleura parietalis mempuyai persarafan sadar (somatis) seperti dinding dada yang lain sehingga dapat merasa nyeri.
Di dalam rongga antara kedua lapisan itu terdapat cairan dan di dalam rongga ini didapatkan tekanan negatif. Tekanan negatif ini membantu menarik paru-paru melebar sehingga proses menarik napas dapat bersifat pasif. Jika terjadi kebocoran yang mengenai juga jaringan paru-paru (pneumothorax), keseimbangan tekanan ini terganggu sehingga paru-paru akan collapse. Kondisi ini bisa menjadi komplikasi membahayakan pada korban akibat tusukan pisau atau korban penembakan.
Pada penderita tuberculosa, penyakit juga sering mengenai lapisan pleura itu sehingga merangsang pembentukan cairan yang berlebihan. Sebagai akibatnya, terdapat penderita radang selaput pleura disertai cairan, yang sehari-hari masyarakat mengenalnya sebagai penyakit paru-paru basah. Gejala serupa juga dapat dijumpai pada penderita kanker paru-paru atau kanker hati yang merangsang pleura.
Penyakit pneumonia juga dapat mengalami penyebaran sehingga mengenai juga lapisan pleura. Sebagai akibatnya, dapat terjadi perlengketan kedua lapisan pleura pada tempat yang terkena infeksi (pleuritis sicca). Setelah sembuh, penderita akan mengalami rasa nyeri bila bernapas dalam. Kanker paru-paru sebenarnya lebih tepat dinamakan kanker bronchus karena memang mengenai jaringan bronchus di dalam paru-paru. Pada fase lanjut memang sulit dibedakan karena sudah mengenai banyak bagian paru-paru.
Udara yang diserap melalui alveoli akan masuk ke dalam kapiler yang selanjutnya dialirkan ke vena pulmonalis atau pem buluh balik paru-paru. Dari sana darah akan dialirkan ke serambi kiri jantung dan seterusnya. Pada penderita penyakit jantung, aliran ini bisa terganggu. Sebagai akibatnya, penderita sakit jantung dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru dan mengalami sesak napas. Selain itu, bisa juga terjadi penimbunan cairan (oedem) di paru-paru. Penyakit ini tidak sama dengan paruparu basah.
Cor pulmonale adalah suatu penyakit kegagalan jantung (heart failure) sebagai akibat kerusakan paru-paru.fkunhas.com

Friday, 3 June 2011

GEJALA KANKER OTAK

Otak adalah pusat kehidupan. Segala aktivitas kehidupan, hingga yang sekecil-kecilnya, hanya bisa terjadi melalui mekanisme yang diatur oleh otak. Dalam waktu yang bersamaan otak harus menjalankan beribu-ribu aktivitas sekaligus. Misalnya, saat kita berjalan di tepi jalan yang ramai, maka otak mengatur agar kaki melangkah, mengatur mata untuk melihat pemandangan dan situasi sekitar sekaligus menyimpannya dalam memori, menyuruh telinga menangkap berbagai suara yang masuk sekaligus menyimpan, menafsirkan, dan meresponsnya. Saat tiba-tiba mendengar suara klakson dari belakang maka secepat kilat otak menyuruh kaki meloncat ke tepi, menyuruh leher menoleh ke belakang, menyuruh mata membelalak, menyuruh otot-otot menegang untuk mengatasi situasi darurat, menyuruh jantung memompa darah lebih kencang, menyuruh hidung tetap bernafas, dan masih banyak lagi yang harus diaturnya, bahkan terkadang masih sempat-sempatnya menyuruh mulut memaki....Semua itu dapat dilaksanakan bersamaan karena diatur oleh bagian otak yang berbeda-beda. Ya, otak memiliki banyak bagian yang memiliki fungsi berbeda-beda. Secara garis besar otak terbagi atas tiga bagian, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak (brain stem). Masing-masing bagian terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, lebih kecil lagi, dan lebih kecil lagi. Ruang antar bagian terisi oleh cairan otak (cerebrospinal fluid), sedang bagian luarnya terlindungi oleh tiga lapis selaput otak (meninges) plus tulang tengkorak.

Seperti bagian-bagian tubuh lain, otak bisa terkena tumor maupun kanker. Bedanya, jika pada bagian tubuh lain tumor jinak kadang tidak mengganggu dan tidak berbahaya, di otak tumor jinak pun bisa sangat mengganggu dan membahayakan nyawa.

Banyaknya bagian otak yang memiliki fungsi pengaturan tubuh yang berbeda-beda membuat tumor dan kanker otak memiliki gejala yang sangat variatif. Gejala yang muncul sangat tergantung di bagian otak mana tumor tersebut muncul.

Dr. Iskandar Japardi menjelaskan gejala umum tumor dan kanker otak adalah sebagai berikut:

Gejala Serebral Umum
Dapat berupa perubahan mental yang ringan (psikomotor asthenia), yang dapat dirasakan oleh keluarga dekat penderita berupa: mudah tersinggung, emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial, kehilangan inisiatif dan spontanitas, mungkin diketemukan ansietas dan depresi. Gejala ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus.

Nyeri Kepala
Diperkirakan 1% penyebab nyeri kepala adalah tumor otak dan 30% gejala awal tumor otak adalah nyeri kepala. Sedangkan gejala lanjut diketemukan 70% kasus. Sifat nyeri kepala bervariasi dari ringan dan episodik sampai berat dan berdenyut, umumnya bertambah berat pada malam hari dan pada saat bangun tidur pagi serta pada keadaan dimana terjadi peninggian tekanan tinggi intrakranial. Adanya nyeri kepala dengan psikomotor asthenia perlu dicurigai tumor otak.

Muntah
Terdapat pada 30% kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior, umumnya muntah bersifat proyektil dan tak disertai dengan mual.

Kejang
Bangkitan kejang dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak.
Perlu dicurigai penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak bila:
- Bangkitan kejang pertama kali pada usia lebih dari 25 tahun
- Mengalami post iktal paralisis
- Mengalami status epilepsi
- Resisten terhadap obat-obat epilepsi
- Bangkitan disertai dengan gejala tekanan tinggi intrakranial lain.
Bangkitan kejang ditemui pada 70% tumor otak di korteks, 50% pasien dengan astrositoma, 40% pada pasien meningioma, dan 25% pada glioblastoma.

Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial (TTIK)
Berupa keluhan nyeri kepala di daerah frontal dan oksipital yang timbul pada pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem. Keadaan ini perlu tindakan segera karena setiap saat dapat timbul ancaman herniasi. Selain itu dapat dijumpai parese N.VI akibat teregangnya N.VI oleh TTIK. Tumor-tumor yang sering memberikan gejala TTIK tanpa gejala-gejala fokal maupun lateralisasi adalah meduloblatoma, spendimoma dari ventrikel III, haemangioblastoma serebelum, dan craniopharingioma.
Selain gejala umum di atas ada gejala-gejala spesifik berdasarkan lokasi dan fungsi otak yang diserang. Antara lain:

Tumor pada Lobus Frontal:
- Perubahan perilaku dan kepribadian
- Penurunan kemampuan menilai sesuatu
- Penurunan daya penciuman
- Penurunan daya ingat
- Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh
- Penurunan fungsi mental/kognitif
- Penurunan penglihatan dan radang syaraf mata

Tumor pada Lobus Parietal:
- Penurunan kemampuan bicara
- Tidak bisa menulis
- Tidak mampu mengenali seseorang
- Kejang-kejang
- Disorientasi ruang

Tumor pada Lobus Oksipital:
- Kehilangan penglihatan pada salah satu atau kedua belah mata
- Kejang-kejang

Tumor pada Lobus Temporal:
- Penurunan kemampuan bicara
- Kejang-kejang
- Kadang tanpa gejala sama sekali
Tumor pada Fosa Posterior:
- Gangguan berjalan
- Nyeri kepala
- Muntah
Tumor pada Cerebello Pontin Angie:
- Gangguan pendengaran

Tumor pada Batang Otak:
- Perubahan perilaku dan emosional (lebih sensitif, mudah tersinggung)
- Sulit bicara dan menelan
- Mengantuk
- Sakit kepala, terutama pada pagi hari
- Kehilangan pendengaran
- Kelemahan syaraf pada salah satu sisi wajah
- Kelemahan syaraf pada salah satu sisi tubuh
- Gerakan tak terkontrol
- Kehilangan penglihatan, kelopak mata menutup, juling, dll.
- Muntah

Tumor pada Selaput Otak:
- Sakit kepala
- Kehilangan pendengaran
- Gangguan bicara
- Inkontinensi (tidak mampu mengontrol buang air kecil/besar)
- Gangguan mental dan emosional (apatis, anarkis, dll)
- Mengantuk berkepanjangan
- Kejang-kejang
- Kehilangan penglihatan

Tumor pada Kelenjar Pituitary:
- Berhenti menstruasi (amenorrhea)
- Memproduksi air susu
- Impotensi
Tumor pada Hipotalamus:
- Gangguan perkembangan seksual pada anak-anak
- Kerdil
- Berhenti menstruasi (amenorrhea)
- Gangguan cairan dan elektrolit
Tumor pada Ventrikel:
- Hidrosefalus
- Leher kaku
- Kepala miring
- Nyeri kepala mendadak
- Penglihatan kabur
- Penurunan kesadaran

Walaupun mengalami salah satu atau beberapa gejala seperti di atas saja, belum tentu seseorang mengidap tumor atau kanker otak. Untuk memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan langsung oleh dokter spesialis (bedah) syaraf dan pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, MRI, angiogram, myelogram, spinal tap, serta biopsi.

KELAINAN GENETIK

KELAINAN GENETIK


Kelainan Metabolisme Bawaan :
1. Phenylketonuria (PKU)
Penyakit ini disebabkan orang tidak mampumembentuk enzim phenylalanine hidroksilase, sehingga phenylalanine tidak dapat diubah menjadi tirosin. Penderita memiliki genotip homozigotik resesif pp dan mempunyai timbunan asam amino phenylalanine dalam hati dan kelebihannya akan masuk dalam peredaran darah serta diedarkan ke seluruh tubuh. Orang normal memiliki genotip PP atau Pp. Orang penderita PKU mengalami cacat mental. Orang yang heterozigotik (carrier) biasanya mudah dideteksi dengan menggunakan tes toleran phenilalanin. Mereka yang normal homozigotik merubah phenylalanine dalam waktu singkat, sedangkan mereka yang memerlukan waktu yang lama adalah heterozigotik. Seorang carier tidak memperlihatkan cacat mental, tetapi IQ nya lebih rendah daripada yang normal homozigotik.
Kandungan phenylalanine yang tinggi dari seorang ibu menyebabkan rusaknya otak dari bayi. Selain itu system urat syarafnya pun tidak sempurna. Penderita PKU biasanya mempunyai mata biru, berambut putih, kulitnya seperti albino karena kurangnya pembentukan melanin dan kerap kali menderita penyakit kulit (eksim) serta cacat mental.
Urine orang yang mengidap Phenylketonuria mengandung 300 sampai 1000 mg phenylalanine per 100 ml, sedangkan pada orang normal hanya sekitar 30 mg per 100 ml.
Apabila penyakit PKU ini diketahui sejak awal ada kemungkinan besar cacat mental pada anak itu dapat dihindari atau setidaknya dikurangi, yaitu dengan mengadakan pantang makan (diet). Anak itu tidak boleh (dikurangi) makan makanban yang mengandung banyak protein, seperti daging, ikan, telur, susu atau bahan susu lainnya, kacang tanah dan sebagainya. Sebagai gantinya susu dapat dibeli susu bubuk yang mengandung asam amino yang diperlukan tubuh tetapi tanpa phenylalanine. Juga tersedia tepung gandung tanpa phenylalanine untuk dibuat roti dan kue.
Memeng tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan bagi penderita PKU kalau mau hidup selamat. Kecuali diet, ia harus control darah secara teratur ke dokter. Di Amerika Serikat biaya untuk seorang penderita PKU termasuk pengobatannya ditaksir US$ 100.000 sepanjang hidupnya

2. Albinisme
Kelainan ini disebabkan karena tubuh seseorang tidak mampu membentuk enzim yang diperlukan untuk merubah asam amino menjadi beta-3,4-dihidroksiphenylalanin untuk selanjutnya diubah menjadi pigmen melanin. Jadi Albinisme bukanya disebabkan karena adanya penimbunan tirosin dalam tubuh, melainkan karena tidak dapatnya tirosin diubah menjadi melanin. Pembentukan enzim yang mengubah tirosin menjadi melamin itu ditentukan oleh gen dominant A, sehingga orang normal dapat mempunyai genotip AA atau Aa. Orang albino tidak memiliki gen dominant A sehingga homozigotik aa
Oleh karena orang albino tidak memiliki pigmen melamin, maka rambutnya putih, kulit badan dan mata berwarna merah jambu, karae warna darah menembus kulit. Matapun tak berpigmen sehingga tidak tahan sinar matahari, sehingga kerapkali rusak. Oleh karena gen penyebab albinisme ini terletak dalam autosom, maka kelainanalbino ini dapatdijumpaui pada orang laki-laki maupun perempuan.



3. Tirosinosis
Kira-kira 5% dari phenylalanine segera digunakan untuk mensintesa protein baru bagi tubuh. Bagian besar lainnya akan ditukarmenjadi tirosin oleh enzim phenylalanine hidrosilase menjadi tirosin. Apabila enzim tirosinase (tirosin transaminase) absen yaitu pada orang homozigotik tt), maka darah mengandung terlalu banyak tirosin, sehingga menyebabkan penyakit pada hati, kejang pada otot, gemetar, sering kacau kelakuannya, serangan jatung dan pigmen kulit kearah albino. Berbeda dengan penderita PKU penderita tirosinosis mempunyai intelegensia normal. Jika timbulnya penyakit diketahui sejak kecil, keselamatan penderita masih mungkin ditolong dengan melaksanakan makan berpantang, yaitu memilih makanan yang sedikit atau tidak mengandung phnylalanin.

4. Alkaptonuria
Garrod 1902 mengemukakan penyakit ini akaibat adanya gangguan metabolisme. Sampai sekarang belum diketahui terapinya dengan pasti. Frekuensi penyakit ini di Amerika Serikat adalah 5 orang tiap 100.000 kelahiran hidup. Ini berarti setiap tahun dilahirkan 160 anakj penderita.
Penderita tidak memiliki gen dominant H sehingga di hompzigotik resesip hh dan tidak mampu membentuk enzim asam homogentisin oksidase yang seharusnya mengubah asam homogentisin (alkapton) menjadi asam maleyl asetoasetat sampai menjadi H2O dan CO2. Alkapton keluar tubuh bersama kemih, yang menyebabkan kemih berubah warna
5. Kretinisme

Tirosin juga berguna untuk pembentukan hormone tiroksin dan triiodotironin. Orang yang homozigotik cc tidak memiliki enzim yang diperlukan untuk perubahan itu sehingga ia kekurangan hormone tersebut, yang mengakibatkan pertumbuhan kerdil.
Contohnya : Ayah ibu dalam suatu keluarga adalah normal. Mereka mempunyai 10 orang anak, tetapi anak pertama mengalami abortus. Anak laki-lai II 4 dan II 6 serta anak perempuan menderita Kretinisme. Pertanda bahwa ayah ibunya normal, namun mereka heterozigotik.
 

Blogger news

Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Blogroll

Google+ Friends