indahnya islam

TERNYATA KESYIRIKAN DIZAMAN SEKARANG LEBIH PARAH

Para pembaca yang budiman, diantara musibah besar yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu lembah hitam kesyirikan.
Perbuatan dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi kebanyakan manusia karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan manusia sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus," (Al-A'rof : 16). Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman Rosululloh Shollallohu 'alaihi wasallam..!! Kenapa bisa demikian?

Kemusyrikan jaman dahulu hanya di waktu lapang

Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam keadaan sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Alloh, hanya berdo'a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan selain Alloh. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan mereka, " Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih."(Al-Isra' : 67). "Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: "Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka." (Az-Zumar : 8).
Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu, lalu bagaimana keadaan musyrikin pada zaman kita ini? Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita ini, baik dalam waktu lapang ataupun sempit, tetap saja mereka menjadikan bagi Alloh sekutu. Tatkala punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tatkala suatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada Alloh yang amat nyata. Alloh berfirman, "Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka."(Ar-Ro'du : 14)

Sesembahan musyrikin dulu lebih mending solehnya

Orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu 'alaihi wasallam menjadikan sekutu bagi Alloh dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba Alloh yang sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali. Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya. Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman kita? Saking parahnya keadaan mereka, orang-orang yang telah mereka kenal sebagai orang suka berbuat maksiatpun mereka sembah dan diharapkan berkahnya. Lihat betapa banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Diceritakan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan berselingkuh dulu..!! Allohu Akbar

Musyrikin jaman dahulu tidak menyekutukan Alloh dalam Rububiyah-Nya

Tauhid rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Allohlah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh. Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman dahulu. Dalilnya adalah firman Alloh, " Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Alloh", maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?."(Az-Zukhruf : 87). Juga firman-Nya, "Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Alloh." Maka katakanlah "Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"(Yunus : 31).
Akan tetapi titik penyimpangan mereka yaitu kesyirikan dalam tauhid uluhiyah (mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do'a, nadzar, menyembelih kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu. Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan bahwa patung itu bisa mengabulkan do'a mereka atau punya kekuasaan untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung (sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni kubur itu dapat menyampaikan do'a mereka kepada Alloh. Mereka berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah diwujudkan/dilambangkan dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat, sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus melalui perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa'at pada sesembahan mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya."(Az-Zumar : 3).
Lalu bagaimana keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul. Sungguh tidak seorangpun dapat menciptakan seekor ikan kecilpun, ini adalah hak khusus Alloh dalam rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi Roro Kidul. Allohu akbar, betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat yang takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena khawatir ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.
Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada orang-orang musyrik sekararang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari segala macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang mengatakan “Untuk apa belajar tauhid sekarang ini?”. Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A'lam. (Ibnu 'Ali Al-Barepany).

PACARAN HARAM??

“Pacaran itu dilarang tidak ya dalam Islam?”. Sebenarnya, pertanyaan ini sangat mudah untuk di jawab bila kita tidak ‘mendewakan’ akal ketimbang hati nurani. Seperti orang-orang yahudi yang selalu mendustakan ayat-ayat Allah dengan akal mereka dan mematikan hati nurani setelah datang kepada mereka suatu kebenaran. Seperti firman Allah yang termuat dalam Q.S. Al Baqarah (2) : 89 berikut
“Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu,mereka mengingkarinya. Maka laknat Alloh bagi orang-orang yang ingkar.”
Demikianlah Allah menjelaskan kepada kita apa yang telah diperbuat oleh kaum yahudi, agar kita menjadikannya sebagai pelajaran.
“Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya, dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan.” Q.S. Al Baqarah (2) : 90.
Bila kita mengkaji Al-Qur’an, begitu banyak ayat yang menjelaskan tentang kedurhakaan orang yahudi kepada Allah, Pencipta mereka sendiri. Penyebabnya tentu saja karena mereka lebih mengutamakan ro’yu ketimbang qolbu. Betapa kejinya perbuatan mereka. Semoga kita tidak termasuk sebagai orang-orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya.
Seperti yang telah saya katakan di atas, bahwa pertanyaan “Pacaran itu dilarang tidak dalam Islam ya?“ sangatlah mudah bila kita mengunakan qolbu untuk menjawabnya. Karena Qolbu lah yang dapat membedakan mana yang haq dan yang batil. Namun bila Qolbu (hati) kita buta, maka tidaklah heran bila kita terjerumus dalam hal-hal yang tidak Allah ridhoi. Baiklah, mari kita bahas masalah ini dalam pandangan Islam (tentunya sesuai dengan Al-Quran dan hadist).
Al-Qur’an, yang berisi Firman Allah serta tiada keraguan didalamnya telah membahas berbagai peraturan hidup makhluk-Nya (termasuk manusia) yang wajib kita taati bagi yang mengaku dirinya seorang muslim. Mulai dari masalah beribadah, berjual-beli, pendidikan, peradilan hingga bersosialisasi (baik antara yang muda kepada yang lebih tua, antar jenis maupun berlawanan jenis kelamin, dsb). Termasuk untuk menjawab pertanyaan di atas, Allah berfirman di dalam Q.S. Al Isra’ (17) : 32 yang berisi,
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
Ayat di atas sangat jelas sekali maknanya (merupakan ayat muhkamat). Maka terjawab sudah pertanyaan di atas. Kita umat muslim, dilarang untuk berbuat zina bahkan untuk mendekatinya pun dilarang. Ayat di ataslah yang saya jadikan landasan mengapa saya menganggap bahwa pacaran itu dilarang dalam Islam. Saya beranggapan bahwa berpacaran adalah salah satu bentuk perbuatan yang erat hubungannya dengan zina. Mungkin anda kurang setuju dengan pernyataan saya, yang menganggap bahwa pacaran adalah salah satu perbuatan yang mendekati zina, sementara menurut anda zina dan pacaran itu adalah hal yang berbeda. Maka saya akan menambahkan beberapa hadist yang berhubungan dengan perihal di atas agar kita semua memahaminya.
Dalam kegiatan berpacaran, pasti tidak luput dari kejadian saling pandang-memandang, berpegangan tangan,berpelukan bahkan hingga berciuman. Semua itu dianggap ‘halal’ dengan alasan bahwa perbuatan mereka dilakukan atas dasar ‘suka sama suka atau CINTA’. Bahkan dengan bangganya mereka menceritakan perbuatan itu pada khalayak ramai dan bila mereka dinasehati maka akan menjawab dengan enteng, “Suka-suka kita donk! Kitakan punya hak. Ga usah ikut campur masalah kita coba! Irikah?! Makanya pacaran!”, dan masih banyak lagi beribu alasan yang mereka ciptakan. Masya Allah, tanpa disadari mereka telah terperangkap oleh tipu daya setan yang mengajak kepada kemunkaran. Tidak sepantasnya bagi seorang muslim melakukan hal-hal yang demikian.
Entah mengapa bila saya memperhatikan pemuda-pemudi yang berpacaran, seolah-olah mereka seperti menampakkan rasa bangga atas apa yang mereka perbuat, bangga punya pacar, sedangkan orang-orang yang tidak pacaran atau tidak mau pacaran mereka anggap ‘cupu, kuper ,dsb’. Justru menurut saya, orang yang punya prinsip tidak mau pacaran itulah yang perlu diacungi jempol. Mereka mampu menjaga kesucian hati, disaat jaman tak lagi suci. Biar saja orang yang berpacaran membanggakan diri kepada orang lain, namun orang yang punya prinsip tidak mau pacaran bisa membanggakan dirinya dihadapan Yang Maha Kuasa, Allah Swt.
Orang-orang yang saya ceritakan di atas melakukannya mungkin karena ketidaktahuan mereka tentang apa itu zina. Namun ada juga dari mereka yang sudah paham, tetapi tetap saja mengingkarinya. Untuk orang yang seperti ini, biar menjadi urusan Allah. Bagi yang tidak tahu, maka saya (selaku muslim) dan orang muslim lainnya wajib memberitahukannya. Urusan apakah nanti mereka menolak atau menerima, biar menjadi urusan mereka terhadap Allah. Yang jelas kewajiban kita sebagai orang muslim, yaitu saling menasehati dalam hal kebenaran telah terpenuhi.
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” Q.S. Al-‘Asr (103) : 1-3.
Baiklah, bagi mereka yang tidak tahu, semoga penjelasan dan hadist-hadist berikut dapat membantu mereka memahaminya.
Dalam pandangan beberapa orang, perbuatan zina hanyalah dianggap sebagai hubungan badan antar lawan jenis. Sebenarnya hal ini sangat salah kaprah karena zina pun bisa dilakukan oleh mata, telinga, mulut, tangan, kaki, dan bahkan hati bisa melakukannya. Hal ini seperti sabda Rasululloh yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori
”Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhasrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisir atau diwujudkan) oleh kelamin atau digagalkannya.”
Hadist di atas menjelaskan kepada kita bahwa perbuatan zina tidak mesti dalam bentuk berhubungan badan. Mata berzina dengan melihat hal-hal yang tidak halal untuk dipandang. Telinga mendengarkan kata-kata yang membuat berpikiran negatif. Lidah mengucapkan seribu puja-puji zina yang di laknat-Nya. Tangan berzina dengan meraba semua anggota badan mereka yang bukan muhrim. Kaki berzina dengan melangkah pada tempat-tempat maksiat bersemayam. Hati berzina dengan mengharapkan atau memikirkan hal-hal yang diridhai setan. Begitu banyak hal-hal yang erat hubungannya dengan zina. Semoga kita terhindar dari hal yang demikian. Namun bagi mereka yang melakukannya, semoga Allah memberinya hidayah.
Dalam hal berpandangan dan bersentuhan kepada yang bukan muhrim, Ulama empat madzhab mengharamkannya. Berikut pendapat mereka
šMadzhab Hanafi. Imam al-Kasaani berkata : ""menyentuh (wanita) lebih berpotensi membangkitkan syahwat daripada sekedar melihat (padahal melihat saja haram)..."" [Bada'iu ash-Shana`i']
šMadzhab Maliki. Imam Abul Barokaat menyatakan : ""Tidak boleh berjabat tangan dengan wanita (bukan mahram) walaupun kaum lelaki sudah tidak memiliki lagi keinginan (hasrat) kepadanya ."" [asy-Syahush Shaghir IV/760].
šMadzhab Syafi'i. Imam an-Nawawi berkata : ""Memandang wanita (bukan mahram) saja haram, maka menyentuhnya tentu lebih haram lagi, karena terasa lebih nikmat ."" [Roudhotu ath-Thalilibin VII/28].
šMadzhab Hanbali. Imam al-Marruzi (ada yang membaca : al-Marwazi) mengatakan : ""Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal. "" Apakah anda membenci jabat tangan dengan kaum wanita (non mahram)?"" Beliau menjawab : ""Aku membencinya."" [Masa`il Ahmad wa Ishaq I/211].

Begitu pula Rosululloh. Beliau memberikan contoh nyata untuk kita, agar tidak menyentuh seorang wanita yang bukan muhrimnya. Hal ini seperti pada hadist riwayat Imam Bukhori berikut
Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha pernah berkata :
"Demi Allah, adalah tangan Rasulullah belum pernah menyentuh tangan wanita kecuali yang beliau miliki (nikahi)."
Berikut adalah perumpamaan bagi mereka yang senang menyentuh seseorang yang bukan muhrimnya
“Sungguh apabila kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan besi, maka hal itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya .”[HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi. Imam al-Mundziri berkata : para perawi hadits ini tsiqaat (terpercaya/kredibel)].
Na’udzubillahi mindzalik. Begitu ngerinya perumpamaan bagi mereka yang ‘hanya menyentuh’ seseorang yang bukan muhrimnya. Pacaran pasti tidak akan lepas dari hal-hal yang diharamkan di atas. Maka dari itu saya tidak setuju bila ada yang menghalalkan pacaran. Namun pernah juga seorang teman menyeletuk pada saya, saat saya menjelaskan pendapat di atas dengan berkata, “Aku pacaran ga’ sampai pegang-pegangan kok! Kalo tatap muka juga paling 1-2 menit aja, ga pake nafsu.” Saya terkadang bingung menghadapi orang-orang yang seperti ini. Mereka seakan tidak percaya bahwa Allah itu lebih menghendaki kebaikan daripada keburukan bagi hambanya (dengan kata lain bersuudzon pada Allah). Padahal Allah berfirman yang artinya,
“…Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Q.S. Al-Baqarah (2) : 216
Saat itu, saya hanya bisa terdiam mendengar celetukannya, karena dari nada bicaranya menunjukkan ketidaksukaan dengan apa yang saya sampaikan. Saat itu saya beristighfar dan berkata dalam hati, “Siapa yang bisa jamin kalau kamu ga bernafsu? Biar kata kamu bisa ‘menjaga’ seperti yang kamu ucapkan, tapi aku ragu dengan hatimu.” Ya, karena hatilah indra perasa yang susah sekali untuk dijaga. Hanya Alloh-lah Dzat Yang Maha Membolak-Balikkan dan Meneguhkan hati.
Sebenarnya masih banyak lagi hadist yang menyinggung tentang hal-hal lain di atas yang tidak dapat saya cantumkan pada artikel ini. Inilah penjelasan singkat yang dapat saya tulis. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang berpaling sesudah datangnya kebenaran yang sesuai dengan Firman Allah berikut
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci? Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” Q.S. Muhammad (47) : 24-25.
Kekurangan datangnya bersama diri yang lemah dan tiada daya ini,dan kebenaran datangnya dari Alloh Swt.
Allah berfirman yang artinya :
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” Q.S. Al-Baqarah (2) : 147
Saya akhiri dengan memohon ampun pada Dzat yang menggenggam diri ini. Astaghfirullohal ‘adziim. Astaghfirullohal ‘adziim. Astaghfirullohal ‘adziim.
Akhirul kalam, Wassalamu’alaikum warrohmatullohi wabarrokatuh.



Indahnya Islam
Judul tulisan ini mungkin sudah terlalu sering kita dengar, tapi kemungkinan besar sedikit sekali di antara kita (termasuk penulis sendiri) yang benar-benar telah merasakan hakikatnya. Seandainya kita mau jujur pada diri kita sendiri, sampai saat ini sudah berapa lama kita menjadi seorang muslim? sudah berapa banyak amal ibadah yang kita kerjakan? akan tetapi pernahkah kita merasakan kenikmatan dan kemanisan yang hakiki sewaktu kita melaksanakan ibadah tersebut?
Maka kalau hakikat ini belum kita rasakan, berarti ada sesuatu yang kurang dalam iman kita, ada sesuatu yang perlu dikoreksi dalam keislaman kita. Karena manisnya iman dan indahnya Islam itu bukan sekedar teori belaka, tapi benar-benar merupakan kenyataan hakiki yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan dan ketaatan yang kuat kepada Allah ?, yang wujudnya berupa kebahagian dan ketenangan hidup di dunia, serta perasaan gembira dan senang ketika beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah ?.
Dan ini merupakan balasan kebaikan yang Allah ? segerakan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat kepada-Nya di dunia, sebelum nantinya di akhirat mereka akan mendapatkan balasan yang lebih baik dan sempurna. Hal ini Allah ? sebutkan dalam banyak ayat Al Qur-an, diantaranya: ayat pertama:

(مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (di dunia), dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan ” (QS. ِِan Nahl:97).
Ayat kedua:
(وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ، الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ)
"Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan berikan kepada mereka (balasan) kebaikan di dunia.Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakkal" (QS. An Nahl:41-42).
Ayat ketiga:
(وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعاً حَسَناً إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ)
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia) sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)" (QS. Huud:3).
Ayat keempat:
(قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ)
"Katakanlah:"Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu".Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.Dan bumi Allah itu adalah luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala bagi mereka dengan tanpa batas (di akhirat)" (QS. Az Zumar:10).
Dalam mengomentari keempat ayat di atas, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah – semoga Allah ? merahmatinya – berkata: "Dalam keempat ayat ini Allah ? menyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat .”
Kemudian kalau kita mengamati dengan seksama ayat-ayat Al Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah ? yang mensifati dan menggambarkan ajaran agama islam ini, kita akan dapati bukti yang menunjukkan bahwa agama islam ini Allah ? turunkan kepada manusia sebagai sumber kebahagian hidup yang hakiki dan ketenangan lahir dan batin bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkannya dengan baik dan benar.
Di antara ayat2 Al Qur-an tersebut adalah firman Allah ?:
(وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ)
"Dan Kami turunkan kepadamu kitab ini (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri" (QS. An Nahl:89).
Juga firman Allah ?:
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدىً وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ)
"Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu (dalam Al Qur-an) pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman" (QS. Yunus:57).
Dalam ayat lain Allah ? menegaskan bahwa Dia ? tidaklah menjadikan agama islam ini sebagai beban yang memberatkan dan menyulitkan manusia, Allah ? berfirman:
(يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ)
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu" (Al Baqarah:185).
(مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ)
"Allah tidak menghendaki untuk menjadikan kesempitan bagi kamu" (Al Maaidah:6).
(وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ)
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan bagi kamu dalam agama ini suatu kesempitan" (Al Hajj:78).
Dan masih banyak ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat-ayat di atas.


 

Blogger news

Translate this page to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified


Blogroll

Google+ Friends